Ads

Sabtu, 15 November 2014

10 Pesepakbola yang Lebih Hebat Ketika Menjadi Pelatih



Dalam dunia sepakbola, seorang pesepakbola yang pensiun lalu melanjutkan karier sebagai pelatih adalah hal yang lumrah.

Namun, kali ini yang tidak begitu lumrah ialah seorang pesepakbola hebat lalu menjadi pelatih dan prestasinya lebih mentereng lagi yang membuatnya lebih populer sebagai pelatih.

Kesuksesan mereka sebagai pelatih membuat orang-orang lupa bahwa sebelumnya mereka juga adalah pemain yang hebat & berprestasi.


Berikut 10 nama yang lebih hebat ketika menjadi pelatih ketimbang pemain :


10. Sir Bobby Robson



Sebagai pelatih, Ia sukses di 4 negara bersama PSV Eindhoven (Belanda), FC Porto (Portugal), & Barcelona (Spanyol) serta Inggris tentunya bersama Ipswich Town & Newcastle United. Ia juga sempat menangani timnas Inggris selama 8 tahun.



Dibalik prestasi hebatnya sebagai pelatih, Ia adalah seorang winger yang bersinar ketika masih menjadi pemain. Ia adalah andalan Fulham & West Bromwich Albion bahkan menjadi bagian penting timnas Inggris di Piala Dunia 1958 & 1962.

Total ia bermain sebanyak 20x dan mencetak 4 gol selama 6 tahun membela panji St George Cross. Sepanjang karier klubnya total Ia mencetak 133 gol dari 583 penampilannya.





9. Giovanni Trapattoni



Ia adalah salah satu dari 2 orang yang mampu merengkuh semua trophy mayor yang tersedia di level Eropa yakni Liga Champions, Piala UEFA & Piala Winner saat menukangi Juventus.

Ia juga menjadi salah satu dari 4 pelatih yang mampu menjuarai Liga domestic di 4 negara berbeda di Italia (Juventus & Internazionale), Jerman (Muenchen), Portugal (Benfica), & Austria (Salzburg).



Walaupun sukses bersama Juventus, semasa menjadi pemain Ia adalah tulang punggung pertahanan AC Milan selama 12 tahun. Di periode itu pula Ia merasakan berbagai gelar yakni 2x Liga Champions, 2x Serie A, Coppa Italia, Piala Interkontinental & Piala Winner masing-masing 1x.

Skill bertahannya membawanya ke Piala Dunia 1962 dan total berseragam Gli Azzuri sebanyak 17x dan mencetak 1 gol.




8. Jupp Heynckes



34 tahun karier kepelatihannya Ia tutup dengan tinta emas, treble winner bersama Bayern Muenchen tahun 2013 lalu. Pengalamannya melatih 9 klub di 3 negara berbeda membuatnya dianggap salah satu pelatih terbaik dari tanah Bavaria yang mampu meraih 2 title Champions League bersama 2 klub berbeda.



Era akhir 1960an & 1970an adalah masa keemasan bagi seorang Jupp Heynckes sebagai pemain. Berposisi sebagai striker, Ia mencetak 220 gol di Bundesliga dan masih tercatat sebagai top skorer ketiga Bundesliga sepanjang sejarah.

Ia juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kejayaan Borussia Moenchengladbach di era 70an dengan menggondol 4 trophy Bundesliga dan sebuah Piala UEFA. Ia juga tampil di Final Piala Champions 1977 namun takluk oleh Liverpool. Ia bahkan menjadi bagian dari timnas Jerman yang menjuarai Piala Eropa 1972 & Piala Dunia 1974.




7. Carlos Bianchi



Namanya tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang mampu meraih 4 trophy Copa Libertadores. Ia juga dinobatkan sebagai pelatih terbaik di Amerika Selatan sebanyak 5x dan terbaik di dunia 2x tahun 2000 & 2003 saat Ia mengawinkan trophy Copa Libertadores dengan Piala Interkontinental bersama Boca Juniors.



Namun, sebelum meraih 5x gelar pelatih terbaik, Ia juga pernah 5x menjadi top skorer Liga Prancis bersama 2 klub berbeda yaitu Reims & Paris Saint Germain.
Penyerang tajam ini juga menjadi top skorer di Liga Argentina 3x bersama Velez Sarsfield sehingga total sepanjang kariernya Ia mengumpulkan 385 gol dan menjadi pesepakbola Argentina yang mencetak gol paling banyak di Divisi Utama Liga manapun di dunia.




6. Ernst Happel



Namanya sudah diabadikan menjadi sebuah stadion di Austria yang dipakai menjadi venue final Piala Eropa 2008. Jelas butuh prestasi luar biasa agar bisa mendapat penghormatan seperti itu dan Ernst Happel memang layak mendapatkannya.

Ia adalah pelatih pertama yang menjuarai Liga Champions 2x bersama 2 klub berbeda yakni Feyenoord tahun 1970 & 1983 bersama Hamburg SV. Ia bahkan nyaris meraihnya lebih awal pada 1978, sayang tim besutannya Club Brugge takluk oleh Liverpool. Ia juga menjuarai Liga domestic di 4 negara berbeda yakni, Belanda, Belgia, Jerman & Austria.



Biarpun memiliki karier kepelatihan yang luar biasa, kariernya sebagai pemain tak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah legenda hidup klub raksasa Austria Rapid Vienna dan bahkan masuk skuad terbaik sepanjang masa tim tersebut.

Sebagai pemain bertahan, Ia juga menjadi bagian dari timnas “The Wunderteam” Austria yang mengejutkan di Piala Dunia 1954. Total Ia mengoleksi 51 caps dengan 5 gol.




5. Sir Matt Busby



Patung dirinya berdiri tegak di depan Old Trafford. Karier kepelatihannya tak perlu diragukan lagi. Dialah yang membawa kejayaan pertama untuk Manchester United. Selama 24 tahun melatih sejak perang dunia II berakhir, Ia mempersembahkan 13 trophy untuk The Red Devils termasuk gelar Piala Champions 1968.

Walaupun sebagian skuad terbaiknya tewas akibat kecelakaan, Ia mampu bangkit dan meraih kejayaannya kembali di tanah Inggris.



Uniknya, sebelum menjadi pelatih, Ia adalah pemain sayap andalan untuk 2 tim rival terberat MU, yakni Manchester City & Liverpool, bahkan sempat mengenakan ban kapten Liverpool. Ia terkenal akan passingnya dan kecerdasannya dalam bermain.

Bersama City, Ia meraih Piala FA 1934 dan bermain sebanyak 204 kali selama 8 tahun sebelum hijrah ke Anfield. Selama 5 tahun, Ia bermain 115 kali sampai perang dunia kedua menghentikan kariernya.




4. Carlo Ancelotti



Dengan 3 gelar Liga Champions & 3 gelar Liga domestic di 3 negara berbeda, Ia dianggap sebagai salah satu pelatih terbaik yang pernah ada di Eropa. Dialah yang menjadi jawaban atas penantian 12 tahun Real Madrid akan keinginan merengkuh La Decima.
Ia dikenal dengan taktik revolusionernya dengan menjadikan seorang Andrea Pirlo yang gelandang serang menjadi deep-lying playmaker dan popular di seluruh dunia saat ini. Taktik itu pula yang membawa AC Milan meraih 8 piala selama 8 tahun masa kepelatihannya.



Strategi defensivenya tak lepas dari pengalamannya sebagai gelandang bertahan di Parma, AS Roma & AC Milan. Ia menjadi kapten tim serigala ibukota saat merengkuh scudetto 1983 lalu kemudian direkrut AC Milan dan menjadi bagian dari The Dream Team yang membawa pulang 9 trophy termasuk 2 Piala Champions & 2 Piala Interkontinental.
Momen terbaiknya bersama Rossoneri adalah saat membobol gawang Real Madrid di semifinal Piala Champions 1989 yang berakhir 5-0.




3. Pep Guardiola



Pelatih muda yang mengguncang Eropa & Dunia saat di musim pertamanya langsung menggondol treble winner bersama Barcelona dan membawa era baru bagi dunia persepakbolaan dengan strategi tiki-taka yang masih ampuh sampai saat ini.

Ia membuat rekor dengan meraih 14 gelar juara hanya dalam 4 tahun masa kepemimpinannya termasuk 2 gelar Liga Champions. Kini, di bawah asuhannya, Bayern Muenchen menjadi tim yang ditakuti di Eropa.



Mungkin para newbie di dunia sepakbola tidak tahu bahwa sebelum prestasi fenomenalnya sebagai pelatih, Ia adalah salah satu gelandang terbaik Spanyol di masanya. Posisinya sama dengan Xavi Hernandez sehingga tak heran Ia mampu memaksimalkan potensi gelandang tersebut.

Bersama Barcelona, Ia menjadi bagian The Dream Team Barcelona asuhan Johan Cruyff yang menguasai La Liga 4 musim berturut-turut 1991-1994 plus 1998-1999 serta Liga Champions pertama Barca tahun 1992. Di timnas Spanyol, Ia ikut menyumbang medali emas Olimpiade 1992.




2. Sir Alex Ferguson



Dunia menganggapnya sebagai salah satu pelatih terbaik yang pernah ada di sejarah sepakbola dan dinobatkan menjadi pelatih paling sukses di Britania Raya. Tidak salah jika melihat deretan trophy yang pernah Ia raih tak hanya bersama Manchester United, bahkan juga Aberdeen dengan total 49 trophy.

Selama 26 tahun bersama United, Ia mempersembahkan 38 gelar termasuk 2 Liga Champions dan meraih 11 trophy bersama Aberdeen termasuk Piala Winner 1983 dan 3 titel Liga Skotlandia 1980, 1984, 1985, bahkan setelah 1985, tidak ada lagi klub selain duo Glasgow yang mampu melakukannya.



Kesuksesannya sebagai pelatih menenggelamkan catatan kariernya sebagai pemain yang sukses di daratan Skotlandia. Selama 17 tahun kariernya sebagai striker, Ia mampu mencetak 171 gol dari 317 penampilan bersama 6 klub.

Gelar topskor Liga Skotlandia Ia raih tahun 1966 dan hal itu pula yang membawanya hijrah ke Ibrox ,kandang Glasgow Rangers, dengan status pemain termahal di Skotlandia saat itu.




1. Rinus Michels



FIFA menobatkannya sebagai “Coach of The Century” pada tahun 1999 merujuk pada prestasi & kontribusinya pada dunia sepakbola. Hasil temuannya bernama “Total Football” mengubah wajah persepakbolaan dunia dan menginspirasi banyak pelatih untuk mengembangkannya.

Strategi inilah yang membawa Ajax Amsterdam merajai Eropa medio pertengahan 70an dan Barcelona menguasai La Liga serta yang paling terkenal timnas Belanda di Piala Dunia 1974 sebagai runner-up dan juara Eropa tahun 1988.



Tidak banyak yang tahu bahwa awalnya dia adalah striker utama Ajax Amsterdam selama 12 tahun (1946-1958). Ia dikenal sebagai pemain pekerja keras, kuat & punya heading yang sangat baik sehingga tak heran 122 gol mampu Ia kemas.

Ketajamannya berbuah 2 gelar Eredivisie dan dengan prestasinya tersebut, Ia layak menjadi legenda Ajax sebagai pemain, namun sejarah mencatatnya sebagai pelatih legendaris Ajax & Timnas Belanda.






sumber: http://m.kaskus.co.id/thread/54644b47d44f9f2d2c8b4575
.

Ads

Daftar Isi