Ads

Jumat, 31 Oktober 2014

Apa sih Pentingnya Nasionalisme (?)




Sebagai sebuah bangsa, kita telah melihat dan mengalami banyak hal. DI/TII, Gestapu, Reformasi 1998, sampai Pilpres: fakta bahwa kita masih bertahan sebagai bangsa yang demokratis, relatif damai, dan bersatu mesti disyukuri. Eksistensi kita sebagai Indonesia memang patut diperingati.

Nah. Pada umumnya, media akan memperingati tanggal 17 Agustus dengan ulasan seputar sejarah lahirnya Indonesia. Beberapa juga akan mengangkat berita tentang veteran Perang Kemerdekaan yang nasibnya kini terabaikan. Tanpa mengerdilkan pentingnya kedua bahasan tersebut, kali ini Hipweeakan membicarakan topik yang sedikit berbeda. Dalam artikel ini, kami akan mengajukan sebuah pertanyaan yang mendasar:

Sebenarnya, apa pentingnya sih mencintai Indonesia?



Nasionalisme: Hal Yang Sering Kita Terima Mentah-Mentah
Jangan protes dulu, ya. kami nggak sedang bilang bahwa Indonesia tak pantas dicintai. Tapi cinta yang benar adalah cinta yang matang dipikirkan. Cinta yang benar adalah cinta yang tetap memelihara logika.

Apakah selama ini kamu sudah memikirkan masak-masak dan matang kenapa kamu harus mencintai Indonesia?



Yeah, but why?

Alasan yang paling sering diajarkan pada kita sejak muda adalah kita harus mencintai negeri ini karena kekayaan alam dan budaya rakyatnya. Tentu itu alasan yang sah, apalagi Indonesia memang benar-benar kaya.

Tapi, tidakkah pernah terbersit di pikiranmu bahwa ini sama saja seperti menyukai seorang gadis hanya karena dia cantik? Tidakkah kamu rindu pada alasan mencintai yang lebih dalam dari itu?

Lagipula jika negeri kita tidak sekaya ini, apakah kamu akan berhenti mencintainya? Ingat, Indonesia adalah negara dengan laju penggundulan hutan tercepat di dunia. Sejak tahun 2000 hingga 2012, kita telah kehilangan 6 juta hektar hutan. Jika “rambut” Ibu Pertiwi ini terus rontok dan akhirnya beliau jadi benar-benar botak, apakah kamu akan berkata “Ah, sudahlah. Negeriku sekarang buruk rupa. Aku pindah kewarganegaraan aja!”?



Tidak akan selamanya cantik: Indonesia kehilangan lebih dari 6 juta hektar hutan di tahun 2000-2012.

Argumen lain yang sering digunakan adalah kita harus mencintai Indonesia karena kita lahir dan dibesarkan disini. Memang, sebagian besar dari kita lahir di keluarga Indonesia. Lumrah juga bagi kita untuk lebih nyaman menjadi bagian dari komunitas masyarakat Indonesia dibandingkan komunitas, misalnya, orang Yordania, atau orang Nigeria. Ini karena kita berbagi bahasa, budaya, dan pola pikir masyarakat Indonesia. Pendeknya, kita ini “Indonesia banget”. Tapi, tidakkah pernah terbersit di pikiranmu betapa primordialnya alasan ini?

Saya mencintai keluarga saya karena mereka memang membesarkan saya dengan rasa sayang. Tapi tidak semua anak di dunia ini punya keluarga seperti itu. Banyak yang lahir dari orang tua abusif dan eksploitatif. Dan sebagaimana orang tua, negara juga bisa bersikap menindas.



Tidak semua warga negara Indonesia mendapat perlakuan adil dari negara

Dengan berat hati, kita harus mengakui bahwa pemerintah Indonesia tak selalu bisa menjadi “orang tua” yang bijak. Di Papua, misalnya, organisasi advokasi hak asasi manusia TAPOL mencatat berbagai kasus pembungkaman aktivisme politik — yang tak jarang diwarnai kekerasan bahkan terhadap mereka yang sebenarnya bukan anggota Organisasi Papua Merdeka. Nah, pernahkah kamu memikirkan nasib mereka yang telah jadi korban “ketidakbijakan” negara ini? Apakah itu artinya sebagian dari kita “nggak wajib-wajib amat” mencintai Indonesia?




Jauhi Nasionalisme Buta

Mungkin sekarang kamu berpikir: ah, ribet amat. Kalo cinta ya cinta aja, nggak usah pakai alasan. Itu ‘kan negara lo sendiri.

Pemikiran seperti ini menempatkan cinta sebagai hal yang niscaya. Seolah-olah sikap kritis nggak diperlukan dalam usaha mencintai Indonesia sepenuhnya. Seolah-olah Indonesia nggak bisa salah, atau seolah-olah “salah atau nggak, tetep negara yang bakal gue bela sampai mati”. Ujung-ujungnya? Nasionalisme buta.

Seseorang yang mengadopsi nasionalisme buta akan rentan menganggap bahwa negerinya lebih baik dari negeri lain. Bahwa bangsanya lebih baik dari bangsa lain. Bukankah ini yang ada di kepala Hitler waktu dia kesetanan menyerang Polandia, Cekoslowakia, Austria, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya? Bukankah ini yang ada di kepala para suku Hutu di Rwanda ketika mereka membunuh ratusan ribu saudara Tutsi mereka?




Nasionalisme buta juga membuat pasukan Serbia di bawah Slobodan Milosevic membunuhi kaum Bosnia pada tahun 1995.

Nasionalisme buta membuat kita merasa terancam karena eksistensi orang-orang yang bukan kita. Pada taraf kecil, kita akan ribut karena hal-hal nggak penting. Kita mencak-mencak melihat rekan senegara kita nge-tweet dalam bahasa Inggris, seakan manusia tak punya kapasitas menjadi penutur dwibahasa. Kita kesal ketika orang Indonesia yang belum pernah menjamahi Sulawesi memilih liburan ke luar negeri.



Liburan ke luar negeri = salah?

Pada taraf yang lebih serius, kita menjadi paranoid pada negara lain. Seolah kepentingan asing niscaya akan berbenturan dengan kepentingan kita. Seolah bangsa kita memang selalu direndahkan, dijelek-jelekkan, dalam hubungan internasional. Ketika seorang jurnalis Amerika mengkritik figur publik kita, kita marah, mengutuknya sebagai intervensi asing. Ketika Australia ketahuan memata-matai kita, kita menganggap itu bukti bahwa Indonesia dipandang sebelah mata oleh dunia, tak peduli bahwa Australia sebenarnya juga memata-matai negara Asia yang lain — termasuk China dan Malaysia.

Nasionalisme seharusnya punya makna yang lebih luas dari paranoia dan rasa sakit hati karena menganggap diri dihina.




Menggali Nasionalisme Yang Lebih Bermakna

Dalam publikasi terkenalnya “What’s So Good About Our Fellow Countrymen?” (1988), filsuf Robert Goodin bertanya apa pentingnya nasionalisme di era postmodern ini. Kenapa kita harus mencintai negeri kita lebih dari negeri-negeri lain di dunia? Ketika kita telah mengakui bahwa semua manusia di dunia ini terlahir setara, kenapa kita harus lebih mementingkan kemaslahatan sesama warga negara Indonesia?

Goodin menuturkan kesimpulan yang mencerahkan. Kewajiban mengabdi kita sebenarnya cuma ada satu: kepada kemaslahatan sesama manusia — terlepas suku, ras, atau agama mereka. Masalahnya, manusia di dunia ini ada terlalu banyak. Tidak mungkin menyuruh satu individu bertanggung jawab atas pemenuhan hak-hak dasar miliaran manusia lain di dunia ini.



Manusia di dunia ini ada banyak sekali. Tidak mungkin kita menolong semuanya. (Foto: James Cridland)

Di sinilah pentingnya eksistensi negara. Dengan adanya negara, jadi jelas siapa yang harus mengusahakan kemaslahatan siapa. Orang Myanmar, misalnya, berkewajiban khusus untuk mengusahakan hak-hak dasar sesama orang Myanmar terpenuhi. Demikian pula, orang Indonesia berkewajiban mengusahakan kesejahteraan sesama orang Indonesia.

Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang di dunia — tetapi dengan adanya negara atau negara-bangsa, kita bisa “membagi-bagi tugas”. Itulah alasan utama kenapa nasionalisme tetap relevan di masa sekarang.



Dengan adanya negara, kita jadi tahu siapa yang wajib mengurus siapa

Bukan berarti bahwa kewajiban kita untuk mengabdi kepada umat manusia yang lainnya hilang. Saat Myanmar, misalnya, gagal memenuhi hak-hak dasar sebagian masyarakatnya (mungkin karena bencana tak terduga menyebabkan pemerintah Myanmar kolaps, atau karena pemerintahnya memang sengaja mendiskriminasi kelompok tertentu di negara itu), adalah kewajiban kita — sebagai sesama manusia — untuk meringankan penderitaan rakyat Myanmar.

Hanya karena kita mencintai negeri dan bangsa Indonesia, bukan berarti kita tidak boleh memedulikan nasib manusia dari negeri atau bangsa lain.



Bantuan untuk korban konflik Gaza. Hanya karena kita mencintai negeri sendiri, bukan berarti kita melupakan manusia dari bangsa dan negara lain. Foto: Iyad Al Baba/Oxfam

Sudah saatnya pula nasionalisme dimaknai lebih luas dari fungsinya dalam konteks politik identitas.

Sebagaimana dijelaskan Gustavo de las Casas dalam “Is Nationalism Good For You?” (2008), ada manfaat-manfaat lain dari nasionalisme yang tidak berhubungan dengan identitas pribadi seseorang. Dituliskan de las Casas, penelitian International Social Survey Programme (ISSP) pada tahun 1995 hingga 2003 mengungkap bahwa semakin nasionalis sebuah negara, semakin makmurlah negara tersebut secara ekonomi. Australia, Kanada, dan Amerika Serikat adalah tiga negara yang paling nasionalis dalam penelitian tersebut, dan tiga negara yang paling makmur.

Ini bisa dijelaskan lewat dua hal. Pertama, nasionalisme membuat seorang warga negara lebih patuh hukum. Kedua, nasionalisme juga bisa membantu negara dalam usaha pemberantasan korupsi. Para PNS di negara-negara yang nasionalis akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan haram yang akan merugikan masyarakat luas di negara mereka. Sebaliknya, para PNS di negara yang tak nasionalis akan cenderung lebih egois — melakukan tindak korupsi tanpa peduli apa efeknya pada sesama warga negara.


Jadi, nasionalisme itu tidak hanya mempengaruhi siapa kita, namun juga tindak-tanduk kita sebagai warga negara.


Nah. Setelah membaca artikel ini, apakah kamu sudah berpikir ulang tentang apa yang mendasari semangat nasionalismemu? Ingat: ketika kita mampu mengedepankan nasionalisme yang rasional, yang tidak chauvinis, dan yang memang didasari pada keinginan untuk membantu sesama, kita akan bisa berbuat lebih banyak sebagai seorang manusia. Tidak hanya demi sesama warga negara, namun juga kemaslahatan dunia.




sumber: http://www.hipwee.com/opini/sebenarnya-apa-pentingnya-sih-nasionalisme/
.

Ads

Daftar Isi