Ads

Minggu, 14 September 2014

Arek-Arek Jowo Timur pasti mengerti 24 Hal ini


Banyak yang belum tahu kalau kultur budaya antara Jawa Timur dan Jawa Tengah itu berbeda. Selain itu, banyak juga yang bilang kalau orang Jawa Timur itu orang Jawa yang kasar, selengekan, dan berkelakuan mirip preman. Biar kamu nggak salah paham, simak dulu deh gimana suka dukanya jadi orang Jawa Timur!




1. Saat Kamu Merantau ke Daerah yang Tidak Menggunakan Bahasa Jawa, Kamu Bakal Tetap Dianggap Dari Jogja Atau Solo



Kamu dikira dari Solo atau Jogja via sahabatbudayaindonesia-2.blogspot.com

Kalau kamu adalah orang asli Jawa Timur, saat kamu merantau ke Bandung atau Jakarta misalnya, orang-orang bakal tetap mengira kamu orang Jogja atau Solo.

Entah kenapa, setiap orang Jawa yang ada di dunia ini selalu dituding sebagai orang Jogja dan Solo. Orang-orang akan berpikir kalau kamu adalah orang Jawa yang logat bicaranya kalem, halus, lembut dan pelan-pelan.

Di titik ini, kamu mulai mempertanyakan eksistensi arek-arek Jawa Timur. Kurang keras apa ya ngomongnya sampai gak disadari gitu keberadaannya?





2. Banyak yang Heran Sama Kamu Karena Kamu Orang Jawa Tapi Nggak “Kalem”



Teman: “Eh.. Lo kan Orang Jawa, tapi kok nggak ada lembut-lembutnya sama sekali sih?”

Kamu: “Hah? Emang kalau Orang Jawa itu harus lembut ya?”


Teman: “Iyalah… Orang Jawa tuh manis, lembut, kalem. Kalau ngomong, jalan itu pelan-pelan. Orangnya sopan, kalau ketawa ditutup. Gitu… nggak kayak lo gini. Ceplas-ceplos, nggak ada manis-masnisnya sama sekali!”

Kamu: “Heh, aku iki Arek Suroboyo, Cak! Mbok pikir aku iki kate nari srimpi, tah? Nek ngomong karo mlaku kudu alon-alon, selak kiamat dunyo iki rek!”
(Heh, Aku ini orang Surabaya! Kamu pikir aku mau nari srimpi, apa? Kalau ngomong sama jalan harus pelan-pelan, keburu kiamat dunia ini!)





3. Banyak Juga yang Menganggap Kalau Orang Jawa Timur Itu Orang Jawa Versi Kasar



Karena sering dibandingkan dengan orang-orang Jawa Tengah, orang Jawa Timur sering dibilang sebagai orang Jawa versi kasarnya.

Cara bicaranya yang sedikit lantang, tegas, cepat dan juga ceplas-ceplos seperti preman, membuat orang Jawa Timur terkesan seperti orang kasar yang sopan santunnya kurang baik dibandingkan orang Jawa Tengah.




4. Padahal Orang Jawa Timur Itu Nggak Kasar Sama Sekali Kok!



Orang Jawa Timur itu bukan orang Jawa yang kasar, kok. Hanya saja, orang Jawa Timur itu memang memiliki karakter dan watak yang jauh berbeda dengan orang Jawa Tengah.

Orang Jawa Tengah dikenal dengan sifatnya yang kalem, lembut, lemah gemulai, sungkanan dan bahkan sering dibilang klemar-klemer (lelet).

Sedangkan orang Jawa Timur itu lebih cekatan, tegas, nggak sungkanan, blak-blakan, dan nggak suka berbelit-belit. Oleh karena itu, orang Jawa Timur terkesan sebagai orang yang kasar. Padahal, orang Jawa Timur itu hatinya selembut tahu sutera, lho! :p





5. Kalau Orang Jawa Tengah Susah Bilang “Enggak”, Orang Jawa Timur Lebih Berani Tegas



Watak orang Jawa Timur memang sedikit lebih keras jika dibandingkan dengan orang Jawa Tengah. Pada umumnya, orang Jawa Tengah terkenal dengan sikapnya yang “pakewuhan”, mereka selalu susah untuk menolak permintaan orang lain, sehingga terkesan “mbulet”.

Kalau orang Jawa Timur, umumnya mereka jauh lebih bisa bertindak tegas megenai hal ini. Orang jawa timur nggak terbisasa untuk bersikap manis-manis dan sungkanan. Mereka lebih senang berbicara secara terang-terangan dan langsung to the point.





6. Meskipun Terdengar Kasar, Orang Jawa Timur Juga Bisa Kromo Inggil, Kromo Lugu dan Ngoko!



Nyuwun ngapunten.. dalem nggeh saget ngomong boso kromo..

Meskipun arek Jowo Timur identik dengan Bahasa Jawanya yang kasar, mereka juga tetap bisa berbahasa Jawa halus kok. Orang Jawa Timur juga masih fasih berbahasa Jawa menggunakan kromo inggil, alus dan juga ngoko. (Kecuali wilayah daerah yang menggunakan bahasa madura dan osing).

Jadi, kalau ada orang yang berani bilang kamu orang Jowo Timur kasar, ajak dia ngomong Bahasa Jawa Kromo Inggil! Pasti itu orang cuma bisa merem melek!





8. Kamu Sering Dipanggil “Arek Suroboyo” dan Dibilang “Bonek”



Entah kenapa setiap kali menyebut nama kota asalmu, seringnya akan disangkut pautkan dengan supporter klub sepak bola di kotamu. Kalau kamu dari Surabaya, kamu otomatis Bonek. Kalau kamu dari Bandung, otomatis kamu Bobotoh. Kalau dari Jakarta, otomatis kamu The Jak Mania.




9. Padahal Jawa Timur itu ada macem-macem, nggak cuma Suroboyoan..



Jawa Timur memang identik dengan Bahasa Suroboyoan, tapi sebenarnya di daerah ini masih banyak sekali etnis Suku Jawa lainnya yang memiliki dialek dan bahkan bahasa yang berbeda.

Terhitung ada lima etnis yang berbeda di Jawa Timur, yaitu: etnis Jawa Timur-an, Jawa Tengah-an, Jawa Osing, Jawa Pesisir Selatan dan Jawa Pesisir Utara. Bahasa Jawa yang digunakan ada beberapa macam, ada yang Jawa Timur-an, ada Bahasa Madura-an, Bahasa Osing, juga ada yang Jawa Tengah-an.

Tuh, masih belum sadar juga betapa beragamnya budaya Indonesia? Satu provinsi aja ada banyak kebudayaan dan bahasa. Apalagi kalau ditambah dari semua provinsi di Indonesia? Bisa bayangin, ‘kan?





10. Nggak Cuma Anak Gaul Jakarta yang Jago Bolak-balikin Kata, Orang Malang Juga Nggak Kalah Jago!



Osob kiwalan kera ngalam (dibaca terbalik: boso walikan arek malang) alias bahasa kebalikan anak malang ini adalah salah satu bahasa gaul yang cukup populer di jawa timur, tepatnya di Kota Malang.

Kalau selama ini kamu hanya tahu anak-anak gaul Jakarta saja yang suka berbahasa terbalik, seperti: Asik jadi “saik”, bisa jadi “sabi” dan pecah jadi “hacep”, Arek-Arek Malang juga lancar banget berbahasa terbalik seperti ini. Bedanya, kalau anakMmalang menggunakan bahasa campuran antara Bahasa Jawa dan Indonesia.

Kamu: “Heh, kera nganal! Nang anam?” (Heh, arek lanang! mau kemana?)

Teman (orang malang): “Disjam” (Masjid)

Kamu: “nggawe opo?” (naik apa?)

Teman: “Adapes rotom” (sepeda motor)





11. Karena Dari ‘Jawa’, Kamu Tetep Dianggap Ndeso. Padahal Kamu Dari Suroboyo, Kota Terbesar ke-2 di Indonesia!



Sekarang udah tahun 2014, tapi masih aja orang yang berpikiran bahwa Wong Jowo itu orang ndeso. Selalu saja dianggap orang kampung, yang belum pernah tahu bagaimana gemerlap lampu kota itu.


Teman: “Nih, gue ajak lo ke Jakarta biar tahu yang namanya kota. Jarang-jarang kan lo lihat gedung-gedung pencakar langit kayak gini?”

Kamu: (dalam hati) *Songong banget nih anak! Emang di Indonesia yang ada gedung tinggi cuma Jakarta doang? KEZEL! Tak kethak ndasmu!





12. Kalau Ketemu Orang Dari Jawa Tengah, Kamu Sering Mengalami Miskomunikasi



Meskipun sama-sama berbahasa Jawa, tetapi terdapat banyak sekali perbedaannya. Mulai dari kosa kata, arti, dan juga dialeknya.


Teman (Jawa tengah): “Kowe mengko mrene numpak opo?” (kamu nanti kesini naik apa?)

Kamu (Jawa Timur): “Aku tak nggawe sepeda ae yo!” (aku naik sepedah aja ya)

Teman: “Heh? Lha kok nggawe sepeda barang? Kesuwen mengko?” (Heh? kok bikin sepedah? kelamaan nanti?)

Kamu: “Lho, ket wingi kan aku nggawe sepeda seh mrene..” (Lho, dari kemarin kan aku pakai sepeda kesini)



Dalam percakapan ini terjadi miskomunikasi, karena kata “nggawe” ini ternyata punya arti yang berbeda bagi orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi orang Jawa Timur, nggawe = memakai. Sedangkan bagi orang Jawa Tengah, nggawe = membuat.




13. Ada Beberapa Pengucapan Sederhana yang Bisa Menandakan Kalau Orang Itu Asli Jawa Timur!



Sekilas, bahasa Jawa Timuran dan Jawa Tengah-an itu mirip. Tapi, ada beberapa kata tertentu yang bisa menandakan bahwa orang itu adalah orang Jawa Timur.

Seperti contohnya, kalau jawa tengah-an pada umumnya meggunakan akhiran kata -to, atau -po, sedangkan jawa timur-an menggunakan akhiran -tah dan -se.


Iyo, tah?

Piye, se?

Iyo, po’o?

Opo’o? (kenapa)

Masiyo (meskipun)





14. Yang nggak bisa lepas dari kamu adalah suka menekankan dan memanjangkan ucapan-ucapan seperti ini..



Omahe uaaadooohhh puuoooll… aku puuueeegeeeelll!

Kalau kamu asli Jawa Timur, dialek yang satu ini nggak akan pernah kamu tinggalkan. Tanpa sadar kamu akan memberi penekanan dan pemanjangan pada kata-kata sifat tertentu yang cuma orang Jawa Timur yang ngerti.


Teman: “Eh, wingi koen sido nang omahe Yanti?”(kemarin jadi ke rumah yanti?)

Kamu: “Halah… Omahe arek iku uaaaddduuuuooooohhhh puuooollllll, rek!”(Haduh, rumah anak itu jauh banget)

Orang Jawa Timur udah terbiasa menggunakan dialek ini. Biasanya, dia baru berhenti ketika nafasnya udah habis. :p






15. Kata Sakti yang Jadi Trademark Orang Jawa Timur Adalah “Janc*k”



Ohh.. koen arek Suroboyo??? Weehh… Janc*k!!!

Kamu juga bakal sering dipanggil “Janc*k” oleh orang yang baru kamu kenal. Padahal kamu sendiri jarang menggunakan kata-kata itu, karena menurutmu kata itu masih terlalu kasar dan tabu.

Janc*k merupakan umpatan yang menempati kasta tertinggi di dunia per-umpatan di Jawa Timur, khususnya daerah-daerah yang menggunakan bahasa Suroboyoan. Tapi bagi beberapa orang, umpatan ini bukan lagi sesautu yang kasar, melainkan hanya sebuah ekspresi semata.





16. Tapi Janc*k Juga Bisa Menjadi Penanda Sebuah Keakraban!



Tapi kata sakti ini, nggak selalu bermaknsa sebagai umpatan. Janc*k juga bisa berarti sebagai penanda keakraban yang ditujukan kepada teman-teman.

Biasanya, orang-orang hanya menggunakan akhiran “-cuk” saja. Hal ini sudah bukan hal yang tabu lagi bagi orang-orang Jawa Timur. Selama penggunaan intonasinya sesuai, maka penggunaan kata janc*k tidak akan menyinggung lawan bicaramu.


“PIYE KABARE, C*K? NANG ENDI AE KOEN C*K? AKU KUUUANGEEEN AMBEK KOEN C*****KK!!.”

Sungguh romantis bukan orang Jawa Timur?




17. Makanan Jawa Timur Itu Nggak Semanis Masakan Jawa Tengah, Justru Arek-Arek Jowo Timur Cenderung Suka Sedikit Pedas



Kalau makanan khas Jawa Tengah itu cenderung manis, berbeda dengan Jawa Timur. Makanan khas Jawa Timur itu memiliki cita rasa yang lebih pedas, asin dan gurih. Katanya sih, itu cerminan dari watak dan karakter orang Jawa Timur yang berani, tegas dan ceplas-ceplos.




18. Orang-orang Luar Jawa Timur Selalu Pengen Makan Rawon. Padahal, Bagimu Makan Rawon Itu Udah Kayak Bernafas



ENAK SIH. ENAK BANGET. TAPI AKU UDAH LELAH MEMAKANNYA. AKU INGIN LARI KE HUTAN DAN MENGADU PADA TARZAN!




20. Kamu Pasti Suka Makanan Berkuah yang Dicampur Sekaligus Sama Nasi!



Opo iki? Kok sotone dipisah se?

Kalau orang Jawa Timur pergi ke daerah Jawa Barat, mereka bakalan bingung ketika makan makanan berkuah. Di Jawa Barat rata-rata makanan berkuah, seperti soto ayam, antara nasi dan kuahnya selalu disajikan terpisah.

Sedangkan orang Jawa Timur pada umumnya terbiasa makan soto dengan kondisi nasi dan kuah soto sudah tercampur. Bagi orang Jawa Timur, nasi soto yang nggak dicampur itu “ora enak blasss!”




21. Di Jawa Timur Ada Satu Kota Kecil yang Sekarang Sering Banget Masuk Berita, Yaitu “JOMBANG”


JOMBANG BERIMAN. JOMBANG BERSIH INDAH DAN NYAMAN!




22. Kota Ini Mulai Banyak Disorot Karena Adanya Orang-orang Ini

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur



Kalau soal Gus Dur, bangga lah ya jadi Arek (n)Jombang.


Ryan ‘Si Jagal’ Jombang



Ini Ryan Jombang apa Benedict Cumberbatch sih? Kok mirip banget?


Ponari ‘Si dukun Cilik’



Ponari itu dari Jombang, founder dari Ponari Sweat.

EH. Salah ya? Maaafkaaannnn *lari-lari kecil*




23. Karena Itu, Semakin Banyak yang Bilang Orang Jawa Timur Itu Nyeleneh-nyeleneh..



Emang salah ya kalau kami nyeleneh? Kami nggak salah, yang salah itu koruptor!




24. Meskipun Kamu Sering Dibilang Jawa Kasar, Selengekan, dan Orangnya Aneh-aneh, Kamu Nggak Pernah Menyesal Sedikitpun Jadi Arek Jawa Timur!



Arek Jawa Timur emang nyeleneh-nyeleneh. Kalau ngomong cepet, kasar dan ceplas-ceplos!

Tapi inilah aku apa adanya, bebas jadi diriku sendiri..

Yang penting, aku nggak ngerugiin negara!

JER BASUKI MAWA BEYA!



Biarpun orang Jawa Timur sering dibilang orang Jawa kasar, janc*kers, preman Jawa atau apalah. Kamu sedikitpun nggak malu jadi orang Jawa Timur. Kamu tetap jadi apa adanya dirimu dan menjunjung tinggi budayamu sendiri.

Biarkan orang beranggapan buruk, yang penting arek-arek Jawa Timur tetap bersatu sebagai pemuda Indonesia yang pemberani!





sumber: http://www.hipwee.com/hiburan/serba-serbi-kehidupan-yang-dialami-oleh-arek-arek-jowo-timur/
.

Ads

Daftar Isi