Ads

Kamis, 08 Januari 2015

Saat HP Masih Menjadi Barang Mewah




Zaman berlalu dengan cepat, banyak perubahan yang telah terjadi, tidak hanya pada sebuah barang, namun makna dan juga fungsi dari barang tersebut juga ikut berubah, termasuk di dalamnya adalah Hand Phone (HP). 


Pada sekitar akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an, HP Masih menjadi barang yang mewah dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, berbeda sekali dengan masa sekarang dimana HP seperti kacang goreng yang siapa saja bisa memilikinya..




1. Kartu Perdana yang Mahal dan Berkelas


Pada saat HP masih dimiliki oleh kalangan terbatas, salah satu faktor penyebabnya adalah harga kartu perdana yang sangat mahal, tidak seperti sekarang ini, selain mahal kartu perdana juga berkelas karena dikemas dengan bentuk yang menarik serta dilengkapi dengan buku petunjuk yang lengkap. 

pada masa itu belum terkenal juga istilah nomor cantik sehingga nomor yang dimiliki adalah acak-acakan, tapi itu tidak menjadi masalah karena yang paling penting adalah bisa memiliki dan bisa digunakan. Kartu perdana pada masa itu juga tidak disertai dengan jumlah pulsa alias isinya nol rupiah, karena mahal dan juga isinya yang tidak ada itu maka orang cenderung untuk berfikir berkali-kali untuk mengganti kartu. 

Jika ada kuis atau undian yang berhadiah HP tapi tidak disertai dengan kartu perdana orang juga cenderung tidak antusias mengikutinya, makanya waktu itu sangat terkenal sekali undian berhadiah HP dengan Kartu Perdananya.


2. Pulsa Mahal, Voucher dan Roaming


Tidak Hanya kartu perdana saja yang mahal, pulsa pada saat itu juga sangat mahal, nominal terendah adalah 50 ribu rupiah dan itu masih berbentuk voucher dan untuk membelinya juga di tempat tertentu, misalnya saja jika menggunakan kartu XL maka orang harus membelinya di XL Center, voucher pulsa terdiri dari beberapa digit angka yang harus diisi jika akan mengisi pulsa, perlu sebuah ketelitian karena salah satu angka saja bisa berbahaya. 

Selain Mahalnya harga pulsa, biaya yang dikeluarkan untuk sekali menelpon dan sms juga bisa dikatakan mahal, kalo tidak salah sekitar 500 rupiah untuk sekali sms, apalagi jika digunakan untul menelpon, belum lagi jika berada di luar daerah, bisa lebih mahal lagi karena kena roaming, yakni kemampuan menerima atau melakukan panggilan terhadap perhitungan tarif yang dikenakan kepada pelanggan dikarenakan si pengguna berada di luar area pelayanan tempatnya terdaftar. Cukup menyusahkan mungkin jika itu masih berlaku dimasa sekarang





3. Mau Jual Kembali Harus Lengkap dan Komplit


Salah satu kebiasaan yang sudah sangat umum di masyarakat adalah menjual kembali barang yang dimiliki, istilahnya adalah barang second, termasuk juga dengan HP. Saat HP masih menjadi barang langka ada peraturan tidak tertulis jika hendak menjual HP yakni harus lengkap dan komplit, yakni harus ada charger dan juga kotak serta buku petunjuk. 


Jika tidak maka bisa dipastikan HP tidak akan terjual dengan mudah, kebiasaan ini ada benarnya juga untuk menghindari pembelian barang curian dan juga membuat para pencuri berfikir dua kali untuk mencuri, tapi sepertinya untuk masa sekarang kebiasaan ini sudah tidak terlalu diperhatikan, sangat jarang orang yang sudah membeli HP menyimpan kotak serta buku petunjuk, charger juga bisa dibeli dengan mudah sehingga tidak jelas mana yang asli dan palsu, jika menjual juga cukup HP-nya saja, tidak penting ada kotaknya atau tidak.





4. Signal Masih Kembang Kempis



Karena pengguna HP pada saat itu masih bisa dihitung dengan jari, maka pemancar atau tower yang ada pun masih sedikit, hanya di kota-kota besar saja signal masih diterima dengan baik, kami masih ingat dengan jelas ketika dulu masih kuliah dan pulang kampung, HP kami tidak bisa digunakan sama sekali karena tidak ada signal di kampung.

Karena keterbatasan signal ini orang jadi berfikir bagaimana caranya supaya signal bisa ditangkap, ada yang harus naik ke ketinggian misalnya pohon untuk sekedar mengirim sms atau menelpon atau yang lebih keren adalah dengan membuat alat penangkap signal yang saat itu sangat terkenal, orang biasa menyebutnya dengan antena HP, caranya sangat sederhana yakni dengan memanfaatkan antena pemancar (misalnya bekas antena televisi) yang ditaruh pada tiang yang tinggi (seperti memasang antena televisi) kemudian disambungkan dengan kabel penghubung dan ujungnya dikasi kumparang tembaga, HP biasanya diikat pada kumparan tersebut, tentu saja hal ini cuma bisa digunakan saat sedang diam dirumah, namun itu sudah sangat membantu.





5. Fitur Seadanya dan Belum ada Paket ini itu


Pada saat ini teknologi memang belum berkembang pesat seperti sekarang ini, fitur-fitur HP pun masih seadanya, jangankan untuk internet, kamera saja belum ada, jika ada game itu pun hanya game kecil dan jarang dimainkan, nada dering masih bawaan asli dari HP itu sendiri, dan fitur-fitur seperti sekarang juga belum ada, tidak ada headset, bahkan dulu juga sempat HP belum bisa untuk mengirim sms.


Selain itu pada saat itu juga belum dikenal adanya paket ini dan itu, semua tarif masih normal, hal ini menyebabkan orang menjadi berfikir dua kali untuk menggunakan HP, hanya jika ada kebutuhan mendesak dan sangat penting saja baru digunakan, itu juga disebabkan karena orang-orang masih jarang yang memiliki sehingga orang lebih suka untuk pergi ke wartel jika ingin menelpon lama atau mendatangi langsung orang yang akan dihubungi, jangan heran jika dulu akan jarang sekali kita melihat orang lalu lalang sambil menggunakan HP, untuk sekedar berbunyi satu kali dalam sehari saja sudah sangat luar biasa.




6. HP yang Mahal dan Hanya Orang Tertentu yang bisa memilikinya

Selain dari apa yang kami sebutkan diatas, faktor utamanya tentu saja pada HP itu sendiri yang harganya masih sangat mahal untuk ukuran saat itu, belum lagi jika ditambah dengan berbagai macam hal yang kami sebutkan diatas. 

Hal itu berimbas pada jumlah orang yang menggunakan HP yang masih sangat sedikit dan bahkan bisa dihitung dengan jari, hanya para pejabat, pengusaha atau mereka yang memiliki kemampuan ekonomi menengah keatas saja yang bisa memiliki HP.

Jika ada orang biasa yang memiliki kebanyakan waktu itu adalah hasil dari bekerja di luar negeri, misalnya menjadi TKI/TKW atau mendapat berkah diberikan HP oleh sanak saudara di Luar Negeri sana, itu pun masih dengan catatan, HP itu apakah masih bisa digunakan atau tidak di Indonesia ? karena kami pernah punya teman yang memiliki HP pemberian dari keluarganya di luar negeri yang tidak bisa digunakan karena model kartunya tidak sama dengan yang ada di Indonesia pada masa itu.







sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/54a9fb5712e257950e8b4579/?ref=homelanding&med=hot_thread
.

Ads

Daftar Isi