Ads

Rabu, 11 Februari 2015

5 Fakta Mengejutkan seputar Popok Bayi








1. 
Mengandung banyak zat kimia berbahaya



Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. 


Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.

Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper - what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. 


Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). 

Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. 

Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma. Bahan kimia yang ditemukan dalam disposable diaper yang mampu menyebabkan iritasi tenggorokan antara lain tolune, xylene, ethylbenzene, styrene, dan isopropylbenzene.





2. 
Pemicu kanker dan kemandulan



Beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melakukan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. 


Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. 

Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melakukan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.

Dalam melakukan studinya mereka juga meneliti pria Eropa yang lahir pada tahun 1975 (tidak lama setelah disposable diaper menjadi begitu populer dan digandrungi). Para peneliti itu terkejut dengan penemuannya, ternyata jumlah sperma pria Eropa mengalami penurunan hingga 25% dalam 25 tahun terakhir. Sekitar 27000 pria Inggris yang sudah menikah menjalani perawatan ketidaksuburan setiap tahunnya, dan angka kejadiannya meningkat hingga 55% pada tahun 1995. Tim Hedgley, ketua National Fertility Assosiation mengatakan, “penelitian ini begitu mengejutkan dan penting untuk diketahui.”


Sementara itu, Dr. Simon Fishel, direktur Centre of Assisted Reproduction (Nottingham, Inggris) mengatakan, “teori tersebut sangat masuk akal dan saya tidak terkejut dengan hasilnya. Bagaimana pun disposable diaper dapat meningkatkan temperatur skortum bayi laki-laki dan tentu saja hal itu merupakan masalah besar karena kinerja skortum akan terganggu.” Sayangnya produksi besar-besaran disposable diaper tidak disertai penelitian terlebih dahulu terhadap efek sampingnya. Sehingga ada kemungkinan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh pemakaian disposable diaper.





3. 
Butuh 500 tahun lebih agar popok dapat terurai



Sampah popok sekali pakai tergolong sampah padat. Dimana, sampah padat merupakan segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine, dan sampah cair. 


Berdasarkan bahannya, sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah an-organik. Sedangkan berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:

1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau an-aerob.
2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
• Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomis.
• Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali. 


Sekarang kita hitung..

Selama 2 atau 3 tahun kehidupan pertamanya rata-rata setiap bayi menghabiskan 6000 diapers(kalau dihitung kurang lebih 2 jutaan gan) yang artinya menciptakan 2 ton sampah tidak dapat terurai,ini baru satu bayi gan,,bayangkan berapa juta bayi tiap tahun lahir di dunia ini.Dinegara maju diperkirakan masyarakatnya membuang 1,7 milyar popok bayi diapers setiap tahun,,untuk dunia diperkirakan ada 27,4 milyar popok bayi dari berbagai Negara,dan ini menyumbang 2,5 % sampah rumah tangga dunia.


Diperkirakan untuk tahun yang akan datang disposable diapers ini merupakan ancaman sampah terbesar no.3 gan,,Bayangkan sampah diapers ini yang jumlahnya milyaran butuh waktu sekitar 500 tahun hanya untuk terurai dengan tanah,dapat dibayangkan bagaimana dampaknya bagi lingkungan






4. 
Wahana berbagai penyakit di TPA



Perjalanan disposable diapers ini dimulai dari agan membelikan bayi agan di toko,kemudian agan pakein dah ke anak agan,,habis pakai terus buang,beli lagi begitu seterusnya sampai anak agan besar.


Tapi pernah gak agan berpikir sampai di TPA diapers itu jadi apa.Jangan kaget gan popok bayi bekas anak ente itu jadi tempat bermukimnya berbagai virus dan penyakit karena kandungan kimianya sudah terkontaminasi dengan kotoran feses,cairan apalagi sebagian besar pasti agan gak ngikutin intruksi cara membuang sampah diapers yang benar.main langsung buang popok bayi ini tanpa membersihkan kotorannya… nah kalau hujan gan,tahu sendiri nih popok dirancang nampung cairan sebanyak mungkin.

Bisa kebayang di TPA yang tempatnya kebanyakan terbuka nih popok nampung air semua,,dan jumlahnya gak lagi satuan tapi ratusan bahkan ribuan.dan tentu saja air yang mengendap di popok ini menjadi tempat tinggal para virus dan penyakit.Bayangkan gan tanpa kita sadari kita sudah menciptakan wahana penyakit untuk lingkungan kita,anak cucu kita nanti.Mungkin sekarang agan belum ngerasain entah tahun-tahun yang akan datang,setelah banyak orang termasuk agan tidak perduli untuk mengambil tindakan menyelamatkan lingkungan kita.






5. 
Butuh sekitar 300 pound kayu untuk setiap bayi dalam setahun



Untuk tumbuh kembang bayi yang memakai disposable diapers ini gan rata-rata 300 pound kayu dalam setahun kalau dikonversi tiap pounds itu 2,2 kg berapa kg kayu dibutuhkan untuk anak agan.?hitung sendiri ya gan..berapa banyak lagi kayu dihutan habis hanya untuk popok bayi.Penebangan hutan semakin menjadi-jadi ditambah dengan banyaknya produk sekali pakai yang memakai kayu sebagai bahan utamanya.


Dengan agan menjadikan anak agan pemakai popok gak bisa terurai ini otomatis agan juga berperan dalam kerusakan hutan kita,mungkin ada baiknya mulai sekarang agan mencoba untuk anak agan memakai popok kain yang terbukti ramah lingkungan dan juga tidak mengandung berbagai penyakit, buat agan-agan yang belum punya anak bisa kasih tahu emak,budhe,tante,embaknya yang pada akhirnya kamu sedikit banyak ikut menyelamatkan lingkungan.kalau tidak sekarang kapan lagi, apa nunggu anak cucu kita nanti terkena dampaknya.






sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/54b8fa99a1cb1774048b4567/?ref=homelanding&med=hot_thread

.

Ads

Daftar Isi