Menjadi orang yang perfeksionis memang nggak mudah. Selalu ada semacam dorongan dalam diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya matang-matang. Selalu saja ada celah untuk mengkritisi apa yang sudah dikerjakan diri sendiri, sehingga pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu hitungan jam jadi molor hinga hitungan hari.
1. Kesempurnaan Itu Cuma Asumsi
Kalau kamu punya sebuah patokan tentang hasil yang sempurna tapi terlalu khawatir tidak bisa mencapainya, lebih baik abaikan saja patokan itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah tetap produktif dan berkonsentrasi pada pekerjaanmu. Selesaikan, teliti, perbaiki, tunjukkan hasil kerjamu kepada orang lain. Walaupun kamu tidak puas dengan hasilnya paling tidak kamu punya hasil. Kamu pun bisa tahu apa yang harus diubah dari hasil akhirmu itu.
2. Menjadi Perfeksionis Membuatmu Menunda-Nunda Pekerjaan
Orang-orang yang sering terlihat menunda-nunda pekerjaan nggak selalu berarti malas, lho. Banyak orang yang kelihatannya seperti orang yang suka nunda pekerjaan tetapi sebenarnya dia adalah orang yang terlalu perfeksionis. Perfeksionisme seringkali menjadi faktor penghambat produktivitas seseorang, karena mereka akan terus menunggu ide-ide yang lebih bagus untuk datang.
3. Menunggu Kesempurnaan Tidak Akan Membuatmu Sempurna
Kebanyakan orang yang bekerja di industri kreatif sering terjebak dalam pemikiran ini. Alih-alih mengerjakan sesuatu sebiasanya, mereka menunggu mood baik dan inspirasi. Padahal kalau kamu sudah mengambil jalur profesi yang bergantung pada kreativitas, kamu harus tetap bekerja biarpun mood carut marut dan sumur inspirasi sedang kering. Kalau nggak gitu, kamu mau makan apa?
Kadang kamu juga merasa membutuhkan waktu untuk menetaskan ide baru. Mereka pun menunggu dan menunggu sambil brainstorming. Tetapi kalau ide baru itu nggak datang-datang, kamu juga nggak bisa terus-terusan nunggu, ‘kan? Ingatlah untuk selalu kembali kepada tujuan utamamu: penuntasan pekerjaan.
4. Obsesi Pada Yang Sempurna Bisa Membuatmu Kecewa
Nggak ada satupun orang atau hal di dunia ini yang benar-benar sempurna. Karya atau tulisan-tulisan luar biasa yang membuat orang tergerak secara emosional memang ada, tapi itupun bisa saja masih jauh dari kesempurnaan. Obsesi pada kesempurnaan bisa membuat kita menjadi kecewa di akhir hari. Mulai saat ini, jangan berpikir untuk bisa menghasilkan sesuatu yang ‘sempurna’. Berpikirlah untuk menghasilkan karya yang baik sesuai standar. Itu adalah dua hal yang berbeda.
5. Perfeksionisme Justru Akan Membuatmu Cemas Dan Mematikan Idemu
Untuk bisa mencapai kesempurnaan yang kamu idam-idamkan, kamu harus terus memacu dirimu untuk mencapai level yang lebih tinggi. Akibatnya, kamu mudah merasa stres. Jika berlebihan, tekanan yang kamu hasilkan ke diri sendiri ini justru malah membuatmu dikuasai ketakutan dan rasa ragu. Ini justru akan menghalangimu untuk mengambil langkah selanjutnya.
6. Orang Produktif Adalah Orang Yang Bisa Menyelesaikan Pekerjaannya
Jangan biarkan rasa takut dan keragu-raguan mencegahmu untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Menjadi orang yang produktif berarti menyelesaikan pekerjaanmu, bukan menghasilkan sesuatu yang avant-garde, revolusioner, apalagi perfect. Kamu nggak perlu membuang waktu berbulan-bulan hanya untuk mengerjakan satu pekerjaan saja. Kalau kamu bisa mengerjakan pekerjaan demi pekerjaan dalam waktu yang tepat, lama-lama keahlian dan kemampuanmu pun akan semakin meningkat.
Kesempurnaan adalah sesuatu yang hanya bersifat asumtif, dan standarnya pun sangat subjektif. Selain itu, obsesi pada kesempurnaan bisa menghasilkan tekanan besar dan justru mematikan ide. Daripada tetap bertahan dengan kesempurnaan, jauh lebih baik jika kamu berusaha menjadi produktif.
sumber: http://www.hipwee.com/inspirasi/6-alasan-kenapa-kesempurnaan-bikin-kamu-nggak-produktif/
gambar cover: the perpectionist
.