Ads

Kamis, 28 November 2013

Tentang Menjelang Kekalahan Jepang di WW2


Hanya dua hari sesudah Hiroshima dibom atom, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang yang sudah setengah kelenger. Pada hari yang sama, sebuah pesawat pengebom AS lainnya bertolak dari P. Tinian membawa born atom kedua untuk kota Nagasaki. Pada waktu bersamaan, dewan tertinggi yang memimpin peperangan mengadakan pertemuan di Tokyo atas prakarsa Menlu Togo yang mengusulkan agar Jepang menerima saja persyaratan yang diajukan Deklarasi Postdam.
Namun dewan yang didominasi tokoh-tokoh militer itu ternyata masih bertele-tele dalam menanggapi persyaratan Postdam. Sekalipun berita hancurnya Nagasaki sudah diterima, namun rupanya para tokoh militer Jepang belum juga mau menerima tragedi itu. Mereka masih ngotot untuk berperang terus, baik untuk mempertahankan tanah air dari invasi AS maupun untuk melawan serbuan Soviet di Manchuria. 


Akhirnya sore hari 9 Agustus itu Kaisar melakukan intervensi, dengan menyatakan keinginannya agar Jepang menerima persyaratan Postdam dengan permintaan agar lembaga kekaisaran tetap dipertahankan. Esok harinya Tokyo pun menyatakan kesediaan menerima Postdam dengan catatan soal Kaisar dan lembaga kekaisaran.

Pesan Tokyo itu pun dirundingkan di Gedung Putih, yang kemudian melalui Menlu Byrnes menyatakan bahwa otoritas Kaisar maupun Pemerintah Jepang untuk memerintah negara akan ditempatkan di bawah kendali Panglima Tertinggi Sekutu. Selama beberapa hari berikutnya soal ini dibahas di Tokyo, dan kembali terulang bahwa pihak militer cenderung menolak dengan alasan jawaban AS tidak menjamin eksistensi Jepang. Debat selama tiga hari terjadi lagi di Tokyo, dan pada 14 Agustus sebuah pesawat terbang AS menjatuhkan ribuan selebaran di Tokyo berisikan teks lengkap tawaran menyerah dari Pemerintah Jepang tanggal 10 Agustus dan jawaban dari Menlu AS 11 Agustus.

Usaha kudeta
Khawatir terbukanya rahasia adanya pendekatan Jepang kepada Amerika itu akan menimbulkan perlawanan terbuka dari kalangan militer, Kaisar langsung bertindak dengan meminta agar para menteri tunduk pada keinginannya untuk menerima tawaran Sekutu, serta agar menyiapkan naskah yang akan dipidatokannya kepada seluruh rakyat Jepang. Keputusan Kaisar Hirohito untuk berpidato merupakan tindakan drastik yang belum pernah terjadi, dan dimaksudkan untuk mencegah sabotase oleh kelompok militer dan kaum fanatik lainnya terhadap upaya pengakhiran perang. Karena bisa saja terjadi kelompok itu mengklaim seolah-olah keputusan menyerah bukanlah kemauan dari Kaisar.

Kekhawatiran itu memang masuk akal, karena pada petang hari 14 Agustus itu memang terjadi usaha kudeta atau pemberontakan di kalangan militer. Sejumlah perwira membunuh komandan Divisi Pengawal Kekaisaran di Tokyo, kemudian masuk ke Istana Kaisar serta gedung radio NHK untuk mencari rekaman pidato Kaisar yang telah dibuat siang harinya. Mereka tidak berhasil menemukannya dan usaha kup itu pun gagal setelah para perwira senior menolak bergabung dan mendatangkan pasukan yang setia ke sekitar Istana.
Menteri Peperangan Jenderal Korechika Anami yang meskipun tidak terlibat usaha kudeta namun sampai saat terakhir menentang keras penyerahan Jepang, hari itu bunuh diri agar tidak mendengar pidato Kaisar. Selama beberapa hari selanjutnya, sejumlah tokoh yang pro pengakhiran perang seperti PM Suzuki, Menlu Togo, dan Marquis Kido yang menjadi penasihat Kaisar, terancam untuk dibunuh.

Pidato Kaisar akhirnya disiarkan, dan perintah ulangan diberikan agar tentara Jepang di mana pun meletakkan senjata. Sejumlah perwira tinggi melakukan harakiri, dan pada 15 Agustus pemerintahan baru dibentuk dengan Pangeran Higashikuni, adik Kaisar, ditunjuk sebagai PM.Dengan itu ancaman terhadap PM dan tokoh pemerintahan lainnya yang menyetujui pengakhiran perang dapat dielakkan. Perang pun resmi berakhir.

Seandainya tidak dibom
Perang selesai sesudah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom pada 6 dan 9 Agustus. Seandainya Presiden Truman tidak memutuskan pemakaian bom itu, apakah perang dapat berakhir secepat itu ? Umumnya orang sependapat bahwa pemakaian bom itulah yang menjadi faktor paling menentukan dalam percepatan selesainya perang. Hal itu mengingat sikap keras militer Jepang yang tidak mengenal kompromi atau menyerah sesuai dengan semangat bushido mereka. Hal itu pun ditunjukkan oleh pimpinan militer mereka sehingga Kaisar sarnpai turun tangan dan menitahkan agar Jepang menerima persyaratan Postdam.
Apabila AS pada masa itu belum memiliki bom atom, atau memutuskan tidak memakai bom atom, maka rencana invasi ke daratan Jepanglah yang akan dilakukan. Perkiraan jumlah korban di pihak AS pun sudah diperhitungkan, dan angkanya sangat besar. Bagi AS atau negara/bangsa yang peka dan amat menghitung korban di pihak sendiri, hal itu tentu dirasakan cukup berat. Karena itu kesiapan senjata baru tersebut dinilai menjadi alternatif utama untuk menghindari atau mengurangi jatuhnya korban besar, terutama di kalangannya sendiri. Sekaligus bom baru itu pun diharapkan dapat mempersingkat selesainya perang, yang dikhawatirkan akan berlarut-larut lebih lama apabila pasukan AS harus menginvasi Jepang.

Sekalipun demikian, apakah pemakaian satu bom di Hiroshima saja tidak cukup sehingga tiga hari kemudian bom atom kedua dijatuhkan pula di Nagasaki? Padahal orang Jepang sudah dapat melihat dan merasakan sendiri kedahsyatan born di Hiroshima tersebut. Apakah Amerika tidak dapat menunggu dulu reaksi Jepang terhadap malapetaka Hiroshima tersebut? Ada pendapat menyebutkan AS tanpaknya yakin bahwa jepang belum juga mau menyerah,sehingga bom perlu di jatukan lagi.

penjatuhan beruntun dalam tempo beberapa hari saja itu juga untuk menimbulkan kesan kepada Jepang, bahwa AS seolah-olah mempunyai banyak born atom. Sehingga kalau Jepang tidak matakluk juga, AS dapat menjatuhkan bom-bom  atom lagi.

Kebencian rasial?
Para pengecam penggunaan bom atom juga menuduh AS menjalankan politik rasialisme, karena mengapa Jepang yang dijadikan sasaran dan bukannya Jerman yang sesama berkulit putih. Pertanyaan keras Ini masuk akal karena AS yang begitu marah dan dendam akibat pembokongan Jepang terhadap Pearl Harbor, selama masa perang menunjukkan menunjuka kebencian rasial terhadap orang Jepang. Mulai dari penginterniran warga AS keturunan Jepang(Nisei), stereotip pelukisan orang Jepang dalam karikatur dan digradasi lainnya dalam media,sampai praktek kebencian rasial yang ditunjukkan
difront 
Presiden Truman sendiri tidak lepas dari hal itu. “Terhadap mahkluk buas (beast) kita pun harus memperlakukannya sebagai mahkluk buas,” demikian salah satu ucapannya tentang Jepang.

Namun terhadap tuduhan tersebut,washington punya Alasan karena jerman Nazi sudah keburu menyerah kalah pada awal Mei 1945, sementara bom atom baru berhasil dicoba pada pertengahan juli.selain itu dorongan AS mengembangkan senjata penghancur massal itu juga lebih mengetahui pihak stbabkan mengetahui pihak Nazi pun sedang berusaha membuat senjata serupa,harus didahului. Karena itu terhadap dipakainya bom atom terhadap jerman Nazi, secara teori memang dimungkinkan karena Jerman dianggap lebih berbahaya. Tetapi perang di Eropa ternyata.berakhir lebih cepat.

Dengan keburu takluknya Jerman Nazi,maka tinggal Jepanglah yang dapat dijadikan sasaran bom atom. Sekalipun banyak pihak. termasuk para ahli pengembang atom sendiri seperti Einstein yang menentang dipakainya bom itu, Trumanrupanya lebih terbawa arus keadLngan Churchill dan juga Stalin, mempengaruhi sikap Truman.Ditambah lagi kenyataan adanya ketidaksadaran kolektif AS kala itu sebagai akibat perang bertahun-tahun, kehausan untuk membalas dan menghancurkan musuh yang dibenci, serta ketidaksabaran untuk segera mengakhian waktu itu. Biaya besar dan bertahun-tahun membuat senjata baruserta harap bahwasenjata ini akan dipakai nantinya,lalu dukung Churahill dan juga stalin,semuanya mempengaruhi sikap Taruman.Ditambah lagi kenyatan adanya ketidaksadaran kolektif AS kalau itu sebagai akibat perang bertahun-tahun,khasus untuk membalas dan menghancurkan musuh yang dibenci, serta ketidaksabaran untuk segera mengakhirinya, juga sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan memakai bom atom terhadap Jepang.

Namun tidak semua petinggi AS menyetujui keputusan Truman. Misalnya Jenderal Eisenhower yang baru memenangkan peperangan di Eropa, menilai pemakaian bom atom atas Jepang sebetulnya tidaklah perlu, sebab pada kenyataannya Jepang sebetulnya sudah kalah. Kepala Staf Kepresidenan Laksamana William Leahy pun melihat bahwa dipaksakannya pemakaian bom atom itu lebih dikarenakan mereka yang terlibat dalam proyek senjata yang telah tahunan memeras otak dan makan biaya besar, ingin melihat hasil karya mereka dipakai. Jenderal H. Arnold yang memimpin kekuatan udara AD juga berpendapat bahwa dengan bom konvensional saja Jepang pun pasti dapat ditaklukkan.
Sebagai pemegang jabatan Presiden AS, akhirnya memang Truman sendirilah yang harus memutuskan dan bertanggungjawab. 

Di lain pihak, hanya dengan suatu tindak kepahlawanan dan keberanian luar biasa, dia sebetulnya dapat melawan,arus psikologis waktu itu dengan berkata tidak terhadap penggunaan bom atom. Namun itu tidak terjadi, sehingga Truman pun menjadi alat dan sekaligus korban dari adanya bom atom. Begitu pula peringatan sejumlah pakar ketika itu bahwa pemakaian bom ini akan memicu lomba persenjataan sejenis, tidak diperhatikan. Padahal peringatan itu memang pro fertik dan terbukti sampai sekarang dengan ribut-ribut soal Korea Utara dan Iran. Ironisnya lagi, pemakai pertama bom atom tersebut kini bersikap dan bertindak seolah-olah dialah yang paling bersih tangannya………

Lebih jauh, logika digunakannya bom atom sebenarnya tidaklah berjauhan dari apa yang disebut praktek terorisme dewasa ini. Dikorbankannya begitu banyak penduduk sipil tidak berdosa dalam suatu penghancuran massal, demi tercapainya efek psikologis yang akan membuat Jepang tunduk sesuai kehendak AS, tidak lain adalah pelaksanaan teori klasik tentang teror. Dan hal itu memang berhasil meski dengan segala akibatnya terhadap kemanusiaan.(rb)

sumber : http://sejarahperang.wordpress.com/2011/07/14/hasil-dan-kontroversi/

.

Ads